Ikatan Alumni Sanata Dharma
1
 
 

USD Gelar Reuni Akbar

30 December 2013

Semarak reuni akbar Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu (28/12) makin meriah dengan kehadiran dua tokoh politik Indonesia: Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo. Reuni pada segmen pertama diisi dengan Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi paham Kebangsaan di Tengah Budaya Politik Pragmatis”. Tampil sebagai pembicara dalam seminar ini Dr. Johanes Haryatmoko, SJ dan Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si., Apt.
Ruang Koendjono, Gedung Pusat USD yang menjadi saksi berkumpulnya para alumni Sanata Dharma tidak mampu memuat ratusan alumni yang datang dari berbagai pelosok wilayah tanah air. Panitia telah mengantisipasi banyaknya peserta ini dengan menyediakan tempat duduk tambahan di lantai 4 dan lantai 1 Gedung Pusat dengan dilengkapi layar yang menyiarkan langsung acara di ruang Koendjono. Sekitar 50 wartawan media cetak dan elektronik nampak berjejal mencari posisi yang strategis untuk meliput acara.
Rektor USD Dr. Paulus Wiryono Priyatamtama, SJ menyampaikan sesuai dengan tradisi Jesuit, Sanata Dharma sebagai universitas besar yang telah meluluskan sekitar 40.000 alumni mempunyai kewajiban untuk mendampingi para alumninya. Alumni dilihat sebagai keluarga yang akan menjaga dan meneruskan visi dan misi USD. Untuk itu, USD perlu mengobarkan semangat yang memotivasi alumni untuk terlibat serta berkontribusi secara aktif dalam upaya bersama mewujudkan masyarakat yang semakin bermartabat. “Presiden Soekarno bersahabat baik dengan Mgr. Soegijapranata dan Drijarkara. Mereka bersahabat karena cita-cita kebangsaan yang tinggi. USD ingin melanjutkan cita-cita kebangsaan yang  telah ditanamkan oleh Prof. Dr. N. Driyarkara, SJ sebagai pendiri Sanata Dharma.” demikian diungkapkan Rm Wiryono dalam sambutan pembukaan seminar.
Senada dengan Rektor, Dr. Tarsisius Sarkim sebagai Ketua Reuni Akbar mengungkapkan dalam rangka perayaan 100 tahun kelahiran Driyarkara, USD ingin menghidupkan kembali semangat nasionalisme yang dibangun oleh para Founding Fathers bangsa Indonesia dan pendiri Sanata Dharma. “Oleh karena itu, untuk menghadirkan kembali semangat kebangsaan dan memaknainya dalam konteks jaman sekarang, panitia reuni alumni Sanata Dharma mengundang Megawati Soekarnoputri untuk menghadirkan kembali semangat kebangsaan yang digagas oleh Soekarno” imbuh Sarkim.
Pembicara pertama Melkiades Lana Leka memaparkan makalah yang berjudul “Membumikan Pancasila Sebagai Komitmen Bersama.” Alumnus fakultas Farmasi USD ini menyampaikan  bahwa Pancasila dan Konstitusi yang rohnya adalah gotong royong, jika dipahami, dimengerti dan dijalankan dalam keseharian pejabat negara, pengusaha, dosen, agamawan, mahasiswa, politisi, buruh, kelompok profesional, petani, dan
1/2
nelayan, niscaya mampu menghantarkan bangsa Indonesia menjadi mandiri dan sejahtera.
Dipandu Darmanto sebagai moderator, suasana menjadi semakin hangat  tatkala pembicara kedua menyampaikan makalahnya yang bertemakan “Kebangsaan dalam Tantangan Budaya Kapitalisme Baru”.  Dalam paparannya, Haryatmoko menelaah percikan gagasan Driyarkara dalam menumbuhkan  sikap kebangsaan. Dengan analogi dan humor-humor yang segar, Haryatmoko menyampaikan bahwa saat ini semua hal cenderung diukur dari perspektif ekonomi. Masyarakat yang mendefinisikan diri dari segi ekonomi hanya mengandalkan manfaat (prinsip utilitarian) sebagai nilai tertinggi dan menomorduakan nilai-nilai lain. Masyarakat didekte oleh logika pasar. “Menghadapi masyarakat yang mengandalkan logika pasar seperti itu, bagaimana bisa menumbuhkan nilai kebangsaan? Padahal sikap kebangsaan sering berseberangan dengan hukum pasar.” demikian diungkapkan Haryatmoko. Dalam paparan berikutnya diulas empat tantangan yang dilontarkan oleh budaya kapitalisme baru dan empat unsur gagasan Driyarkara tentang kebangsaan serta bagaimana gagasan-gagasan itu dikembangkan untuk menjawab tantangan budaya kapitalisme baru.
Setelah kedua pembicara menyampaikan gagasannya, tampil Megawati Soekarnoputri sebagai keynote speaker. Materi yang disampaikan berjudul “Semangat Kebangsaan Abad 21”. Dalam pidato ini, Megawati membahas seputar tiga pilar kehidupan bangsa yang sebelumnya telah disampaikan oleh Soekarno, Presiden RI pertama. Tiga pilar tersebut meliputi: Kemanusiaan, Kemajemukan, dan Kesetaraan antar Warga Negara. “Tiga pilar ini merupakan solusi bagi masalah-masalah kebangsaan yang sedang dan akan dihadapi oleh bangsa Indonesia di abad XXI.” demikian ditegaskan Megawati.
Usai Megawati menyampaikan pidato, Joko Widodo menyampaikan kesaksiannya seputar hal-hal yang telah dilakukan dalam membangun DKI Jakarta. Tiga pilar yang disampaikan Megawati menjadi rujukan utama bagi Joko Widodo dalam membangkitkan semangat kebangsaan di wilayah DKI Jakarta.  “Jadi pemimpin itu harus tegas dan berani melakukan suatu perubahan. Kita tidak dapat menunggu sampai semuanya siap, baru melangkah.” demikian ditegaskannya di akhir pembicaraan.
Acara pada segmen pertama diakhiri dengan penandatanganan prasasti untuk mewujudkan “Berbangsa yang Bermartabat” oleh Megawati Soekarnoputri di bawah rimbunan pohon beringin yang ditanam Soekarno pada tahun 1960. Pohon yang menjadi simbol persaudaraan ini menjadi saksi komitmen anak bangsa, khususnya keluarga besar Sanata Dharma untuk menjadi penggali kebenaran yang unggul dan humanis demi terwujudnya masyarakat yang  semakin bermartabat. (BST)

Temu Alumni Pendidikan Ekonomi Angkatan 76
SADHAR Kumpul Ekonomi 80-an
Temu Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Angkatan 85
USD Luluskan 1253 Sarjana Mandiri dan Siap Berbakti
Career Day USD : A Bridge to My Future
Wisuda 11 April 2015 : Hayatilah Sepenuhnya Arti Menjadi Alumni USD
Wisuda 11 Oktober 2014: Jadilah Lulusan yang Terus Belajar dan Semakin Cerdas & Humanis
Fakultas Farmasi USD Melantik 94 Apoteker Baru
USD Gelar Reuni Akbar
Sharing dengan Alumni USD
hal. 1  2  3  
Universitas Sanata Dharma
Tracer Study - Alumni Universitas Sanata Dharma
Alumni Sanata Dharma - Alumni Universitas Sanata Dharma  @alumni_usd - Alumni Universitas Sanata Dharma